Indonesian
Monday 25th of September 2017
code: 82169
Hadits Ghadir adalah bukti wilayah Imam Ali as

im Suni: “Orang-orang Syiah sering kali menjadikan hadits Ghadir sebagai dalil wilayah dan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Padahal meskipun memang hadits itu shahih, belum tentu yang dimaksud hadits tersebut adalah diangkatnya Ali bin Abi Thalib sebagai imam.”

Penulis Syiah: “Apakah anda siap kita berdebat tentang masalah ini?”

Alim Suni: “Ya, aku siap. Silahkan anda jelaskan hadits Ghadir yang akan kita bahas ini.”

Penulis Syiah: “Hadits Ghadir adalah hadits mutawatir yang ditukil oleh 110 sahabat, 84 tabi’in, dan juga ulama serta ahli hadits di abad-abad setelahnya hingga saat ini."

Secara singkat, hadits itu begini: Rasulullah saw memberi izin umat Islam untuk melaksanakan haji pada tahun ke-10 Hijriah, dan paling tidak 90 ribu orang menunaikan ibadah itu bersamanya. Seusai ibadah tersebut, saat mereka kembali dari Makkah menuju Madinah, tibalah rombongan di suatu lembah yang bernama Ghadir Khum. Hari itu kamis, tanggal 8 Dzul Hijjah. Malaikat Jibril turun dari sisi Tuhan kepada nabi dan menyampaikan ayat suci:

“Wahai utusan Allah, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu.” (QS. Al Ma’idah: 67)

Dengan segera Rasulullah saw memerintahkan para rombongan yang berjalan di depan beliau untuk kembali dan menanti para rombongan yang di belakang agar berkumpul. Tak lama kemudian beliau memimpin shalat dhuhur berjama’ah.

Setelah itu beliau berdiri untuk berkhutbah, di atas mimbar yang dibuat dari tumpukan pelana-pelana onta. Seusai membaca pujian kepada Tuhan, beliau mengingatkan kembali para hadirin akan tauhid, kenabian, hari kiamat, lalu berwasiat tentang “Tsaqalain” (dua peninggalan berharga, Al Qur’an dan Ahlul Bait), menjelaskan bahwa Rasulullah saw lebih utama dari pada diri orang-orang yang beriman, lalu beliau mengangkat tangan Imam Ali as hingga diriwayatkan sampai ketiak mereka berdua terlihat. Lalu beliau berkata: “Barang siapa menjadikanku wali, maka Ali-lah walinya.” Beliau mengulang perkataan itu sebanyak tiga kali. Kemudian beliau mendoakan para pecintanya (pecinta Ali bin Abi Thalib) dan melaknat para pembencinya. Lalu beliau meminta agar yang hadir menyampaikan kabar ini kepada yang tidak hadir. Setelah itu Jibril turun kembali dan membawakan ayat suci:

“Hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian bagi kalian dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha akan Islam sebagai agama.” (QS. Al Ma’idah: 3)

Seusai membacakan ayat tersebut Rasulullah saw bersabda: “Allahu Akbar (maha besar Allah) atas disempurnakannya agama, disempurnakannya nikmat, dan ridhanya Allah atas risalahku dan wilayah Ali bin Abi Thalib setelahku.”

Lalu semua orang saling mengucapkan selamat kepada Imam Ali as yang di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Mereka menjabat tangan Imam Ali as sambil berkata: “Selamat bagimu wahai Ali bin Abi Thalib. Engkau telah menjadi maula (pemimpin) bagiku dan bagi semua orang yang beriman.”

Demikianlah hadits Ghadir.”

Alim Suni tersenyum sambil berkata: “Bagus sekali. Namun ini hanya permulaian dan kita belum membahas apapun.”

Penulis Syiah: “Silahkan utarakan kritikan anda lalu kita bahas bersama.”

Alim Suni: “Bagaimanakah kalian mengartikan kata “maula” dalam hadits Ghadir itu?”

Penulis Syiah: “Artinya adalah orang yang memiliki wewenang dalam perkara umat, penganyom dan orang yang menghakimi.”

Alim Suni: “Kalau begitu jelas kamu tidak tahu arti kata-kata dalam bahasa Arab. Lebih baik kamu merujuk kepada kitab-kitab bahasa agar kamu tahu apa arti kata “maula” itu. Setelah itu baru kita lanjutkan pembahasan ini.”

Penulis Syiah: “Kalau begitu kamu saja yang jelaskan arti kata “maula” agar aku bisa belajar darimu.”

Alim Suni: “Bagus. Sekarang kamu telah datang ke jalan yang benar.

Ketahuilah, bahwa “maula” memiliki banyak arti, seperti: Tuhan, paman, anak, anak saudari, orang yang membebaskan budak, hamba, raja, orang yang diberi nikmat, kawan, pengganti, sahabat yang menyertai, tetangga, tamu, orang dekat, penolong, pecinta dan masih banyak lagi.”

Penulis Syiah: “Jika kita melihat kondisi dan suasana yang ada saat nabi mengucapkan hadits itu, kita pasti bisa menyimpulkan sendiri bahwa maksud nabi berkata “maula” bukanlah “maula” yang memiliki arti bermacam-macam dan tidak jelas seperti yang anda katakan.

Misalnya, tidak mungkin yang dimaksud “maula” adalah arti “Tuhan”, karena itu pasti syirik, dan tidak mungkin nabi menyebut Ali bin Abi Thalib as sebagai Tuhan. Kata “maula” juga tidak mungkin berarti paman, anak, anak saudari, orang yang membebaskan budak, budak, raja, yang diberi nikmat, kawan, dan seterusnya, karena jelas Ali bin Abi Thalib bukan itu. Yakni Ali bukan paman nabi, bukan anak nabi, bukan anak saudari nabi, dan seterusnya.

Adapun jika kamu menganggap “maula” berarti kawan, tetangga, orang dekat, atau tamu, itu juga tidak benar; karena tidak mungkin nabi dengan begitu heboh dan seriusnya mengumpulkan sekian banyak jamaah haji di gurun tandus yang panas hanya untuk menjelaskan kepada mereka bahwa Ali bin Abi Thalib adalah sahabat beliau, itu saja; jelas tidak mungkin. Atau hanya karena beliau ingin menjelaskan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah tetangganya; jelas mustahil dan tidak masuk akal. Mana mungkin dalam keadaan seperti itu beliau hanya menjelaskan sesuatu yang tidak penting dan tak berarti?

Dengan melihat kondisi dan suasana saat beliau menyampaikan hadits tersebut tidak mungkin kata “maula” diartikan selain sebagai “orang yang berhak dan berwewenang dalam memimpin umat Islam”.

Dengan melihat urutan kata-kata nabi dalam pembicaraannya juga masalah ini dapat menjadi jelas. Sebelumnya nabi mengatakan “Apakah aku lebih utama dari pada diri kalian?”, yang mana kata utama itu beliau jelaskan dengan kata “auwla” yang masih satu akar dengan “maula”. Dengan demikian ketika nabi berkata “Ali adalah maula” yang dapat kita artikan adalah “Ali lebih mulia dari diri kalian bagaikan aku (nabi) lebih mulia dari kalian semua”. Yakni nabi ingin meninggikan kedudukan nabi di hadapan umat Islam setinggi kedudukan beliau, yang artinya tak lain adalah Ali bin Abi Thalib as merupakan orang yang berkedudukan sama seperti nabi sepeninggal beliau (pengganti bagi beliau).

Jibril menurunkan ayat tersempurnakannya agama setelah nabi mengumumkan pengumuman itu. Apakah masuk akal kesempurnaan agama tersebut hanya dikarenakan nabi mengumumkan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah tetangga atau sahabat biasa bagi beliau? Jelas tidak. Kesempurnaan agama, suatu hal yang sangat penting, pasti dikarenakan hal yang sangat penting pula, yaitu wilayah Ali bin Abi Thalib as sebagai seorang Imam dan pengganti nabi.”

Alim Suni: “Aku tetap masih punya pertanyaan yang terus membuatku tidak tenang.”

Penulis Syiah: “Maka tanyakanlah.”

Alim Suni: “Jika memang hadits tersebut adalah hadits yang sangat penting dan dasar kekhalifahan setelah nabi, lalu mengapa para sahabat dan sekian banyak umat nabi sepeninggal beliau tidak menjalankan hadits itu?”

Penulis Syiah: “Bukan hal yang aneh, silahkan anda merujuk sejarah para sahabat, anda akan banyak menemukan betapa sering para sahabat berbuat bertentangan dengan perintah-perintah nabi, dan kebanyakan masalah-masalah politik. Mengabaikan hadits Ghadir adalah salah satu contohnya. Selain itu ada fakta sejarah lainnya yang serupa seperti para sahabat tak mau bergabung dengan pasukan Usamah, pertentangan sebagian sahabat terhadap nabi mengenai perdamaian Hudaibiah, dan lain sebagainya. Allamah Syarfuddin Musawi dalam kitabnya An Nash wal Ijtihad telah menyebutkan lebih dari 70 pertentangan para sahabat terhadap nabi.

Justru yang kami tidak habis pikir adalah mengapa kalian, orang-orang Ahlu Sunah begitu menganggap para sahabat suci dari kesalahan? Seakan mereka sama sekali tidak pernah sedikit pun bertentangan dengan Al Qur’an dan sunah nabi.”[1]

CATATAN :

[1] Dialog Ilmiah, Sayid Ali Husaini Qumi, jilid 2, halaman 156.

user comment
 

latest article

  Kisah di Balik Lukisan Terkenal Asyura
  Falsafah Menangis atas Imam Husain as(2)
  Falsafah Menangis atas Imam Husain as(1)
  Asyura: Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetiaan (2)
  Al-Quran dalam Kehidupan Imam Husein as
  EPISODE TERAKHIR KARBALA; Mengapa Harus putra putri kecil itu
  Mengenal Karakteristik Unggul Imam Husein as
  Majelis Duka, Ritual Melestarikan Asyura.
  Pentingnya Memperingati Tragedi Asyura
  FALSAFAH KEBANGKITAN IMAM HUSAIN