Indonesian
Tuesday 26th of September 2017
code: 82019
Ubudiyyah Kepada Allah SWT (2)


Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
 
Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, sehingga mereka mengerti perkataanku.
 
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpah kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (QS. Al-Ma’arij : 19-21)
 
Ketahuilan! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. Al-Alaq : 6-7)
 
Sesungguhnya manusia ini bukanlah seorang hamba, melainkan dia adalah seorang manusia yang tidak kesana-kemari, “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir). Mereka tidak masuk ke dalam golongan ini (orang-orang yang beriman) dan tidak pula ke dalam golongan itu (orang-orang yang kafir).” (QS. An-Nisa :  143)
 
Sebagaimana perkataan Amirul Mukminin, “Orang ini tidak ubahnya seperti nyamuk, tidak ada ketetapan pada dirinya. Dia terbawa hanyut angin musibah sebagaimana juga dia terbawa hanyut angin nikmat.”
 
Amirul Mukminin menggambarkan seorang hamba di dalam kitab Nahjul Balaghah, “Seorang mukmin tidak ubahnya seperti sebuah gunung yang kokoh, yang tidak akan dapat digoncang oleh angin dan badai.”
 
Salah seorang sahabat Imam Ja’far ash-Shadiq datang kehadapannya dan bermaksud memuji dirinya sendiri. Orang itu berkata, “Wahai putra Rasul Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang sabar di hadapan musibah dan orang yang syukur di hadapan kenikmatan.”
 
Imam Ja’far ash-Shadiq berkata, “Kami tidak seperti itu.” Mendengar itu, laki-laki yang menyangka bahwa sikap yang diambilnya di hadapan musibah dan kenikmatan itu baik merasa kaget. Dia berkata, “Wahai putra Rasul Allah, kalau begitu, jalan apa yang benar?”
 
Imam Ja’far menjawab, “Kami menaati perintah-perintah Allah. Jadi, apa-apa yang datang dari sisi-Nya adalah baik. Jika yang datang itu musibah dan kesulitan maka itu baik, dan begitu juga jika yang datang itu adalah kenikmatan dan kesenangan.”
 
Kita telah bercerita bahwa Sufyan ats-Tsauri telah datang kepada Imam Ja’far ash-Shadiq dan berkata, “Wahai putra Rasul, saya datang kepadamu supaya dadaku menjadi lapang.” Imam Ja’far ash-Shadiq berkata, “Wahai Sufyan, ketahuilah bahwa engkau adalah hamba dan Dia adalah Tuan.”
 
Jika seseorang mampu memahami kalimat pertama yang dikatakan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq kepada Sufyan ats-Tsauri, maka niscaya dadanya menjadi lapang, dan hatinya menjadi luas seperti lautan, serta taat dan tunduk kepada Allah SWT. Selamat bagi orang yang menaati Tuhannya dan menjadi contoh dari ayat, “Wahai jiwa-jiwa yang tenang.”  Orang seperti ini pasti akan menang dari peperangan “dalam” ini. Al-Quran Al-Karim menyebutkan dialog ibllis dengan Allah SWT. Di dalam dialog itu, iblis menyebutkan kelemahannya di dalam mempengaruhi hamba-hamba Allah yang ikhlas. Iblis berkata, “Saya tidak mampu menyesatkan mereka, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa atas mereka.”
 
Iblis berkata, “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Shad : 82-83)
 
Sungguh tidak ada kebanggan yang lebih tinggi dari seorang manusia menjadi hamba Allah SWT. Amirul Mukminin Ali telah berkata, “Cukup menjadi kebanggan bagiku di mana aku menjadi hamba-Mu.”
 
Marilah kita berusaha menjadi hamba-hamba Allah. Kedudukan ini lebih tinggi dari kedudukan risalah. Kita tidak membatalkan tasyahud manakala pertama-tama kita menyebutkan penghambaannya, baru kemudian menyebutkan kerisalahannya. Yaitu kita menyebutkan “Saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya”. Tampak dari kalimat ini bahwa penghambaan lebih tinggi dari kerisalahan. Sungguh, risalah datang adalah semata-mata untuk menciptakan seorang hamba yang tulus, dan Rasulullah SAW adalah hamba Allah seratus persen.
 
Kalimat kedua yang dikatakan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq kepada Sufyan ats-Tsauri ialah, “Wahai Sufyan, jika engkau menginginkan kelapangan dada, maka engkau harus sadar bahwa Tuhanmu mempunyai kemarahan dan juga keridhaan. Oleh karena itu berbuatlah hal-hal yang diridhai Allah SWT dan jauhilah hal-hal yang dimurkai oleh-Nya.”
 
Pada pembahasan yang berkenaan dengan ayat yang berbunyi, “Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu”  (QS. Al-Baqarah : 45), saya telah mengatakan, bahwa salah satu yang memperkuat keinginan dan menjadikan manusia memperoleh kemenangan di dalam peperangan “dalam” ialah menaruh perhatian kepada pelaksanaan kewajiban dan peninggalan hal-hal yang diharamkan.
 
Sesungguhnya arti penghambaan ialah Anda menaruh perhatian terhadap kewajiban dan merasa gelisah dari dosa. Dosa, betapa pun kecilnya, karena ia mengotori penghambaan, maka tetap harus dianggap sebagai sesuatu yang besar sekali. Oleh karena itu kita melihat seorang hamba yang hakiki akan merasa resah dan gelisah hanya karena melakukan sebuah dosa yang paling kecil sekali pun.
 
 
 
Diceritakan, bahwa salah seorang sahabat Rasulullah SAW, manakala muslimin keluar untuk berperang pada sebuah peperangan, dia tetap berada di kota Madinah untuk menjaga kaum wanita. Suatu hari dia pergi ke rumah temannya, lalu pandangannya jatuh tertuju kepada istri temannya. Setan membisiki dirinya, dan dia pun menyentuh bagian tubuh yang sangat pribadi dari wanita itu dengan tangannya. Wanita itu merasa takut sekali dan mengatakan kepadanya, “Api, api.” Maksudnya, apa yang engkau lakukan itu adalah api neraka.
 
Sindiran ini telah menciptakan satu pengaruh yang begitu dahsyat pada diri si laki-laki itu. Laki-laki itu pun pergi ke jalan dengan tidak menghiraukan sesuatu apapun. Dia menangis dan berteriak-teriak seperti orang gila, “Sekarang akau telah menjadi ahli neraka, sekarang aku telah menjadi ahli neraka.” Dia pun pergi ke Madinah menuju padang pasir.”
 
Ketika Rasulullah SAW kembali dari perang, turunlah ayat yang memberitahukan bahwa tobat laki-laki itu diterima.
 
Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya dosanya telah diampuni dan tobatnya telah diterima. Sekarang, pergilah dan bawalah laki-laki itu kemari.” Rasulullah SAW shalat di mesjid, sementara laki-laki itu duduk di shaf orang-orang yang sedang shalat. Akan tetapi dia merasa malu menatap wajah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW naik ke mimbar, namun laki-laki itu tetap menundukkan kepalanya dan tidak mampu mengangkat wajahnya untuk memandang Rasulullah SAW. Secara kebetulan Rasulullah SAW membaca surah at–Takatsur. Ketika Rasulullah SAW selesai membacakan surah itu, secara tiba-tiba laki-laki itu berteriak dan tumbang ke tanah. Orang-orang pun datang melihat apa yang terjadi, akan tetapi mereka mendapati bahwa lelaki itu telah meninggal dunia.
 
Laki-laki itu telah bertobat dari dosa-dosanya, dan Allah pun telah menerima tobatnya, akan tetapi rasa malu yang menghantuinya yang disebabkan perbuatan yang telah dilakukannya telah menjadikan rohnya meninggalkan jasadnya tatkala mendengar ayat-ayat yang berbicara tentang azab Ilahi.
 
Banyak dari kalangan fukaha, yang salah satunya adalah guru besar kita, pemimpin besar revolusi Islam, mengatakan tentang dosa, “Semua dosa adalah dosa besar, dan tidak ada dosa kecil. Agar supaya seseorang tidak keluar dari keadilan, maka sesungguhnya semua dosa itu besar, meskipun di antara dosa-dosa besar itu ada yang lebih besar dan ada yang lebih kecil.
 
Sebagai contoh memandang wanita yang bukan mahram adalah dosa besar, adapun menyentuh tubuhnya adalah dosa yang lebih besar lagi, sementara yang paling besar dari itu ialah melakukan perbuatan yang melanggar kesucian. Jadi semua dosa itu besar, akan tetapi ada tingkatan-tingkatannya.
 
Di sini harus kita katakan, bahwa sesungguhnya perkataan-perkataan pemimpin besar revolusi Islam mempunyai makna yang dalam, manakala dia mengatakan, “Jika kita ingin sampai kepada sesuatu yang kita inginkan, maka di dalam kehidupan kita harus tidak ada dosa.”
 
Oleh karena itu, saya berharap Anda berusaha untuk memperoleh kemenangan di dalam peperangan “dalam” ini. Adapun rahasia kemenangan kita ialah  sikap menjauhkan diri dari dosa, dan juga kelapangan.
 
Anda harus menjadi orang yang lapang dada, dan hati Anda harus luas seperti lautan. Anda juga harus benar-benar memperhatikan pelaksanaan kewajiban agama. Oleh karena itu Imam Ja’far ash-Shadiq berkata kepada Sufyan ats-Tsauri, “Jika Anda ingin sampai kepada apa yang Anda inginkan maka Anda harus benar-benar memperhatikan pelaksanaan kewajiban. Anda juga harus meninggalkan maksiat terhadap Allah SWT karena manusia yang bermaksiat kepada Allah maka dia akan menghadapi kemurkaan-Nya.” Kita mempunyai riwayat-riwayat yang mengatakan, “Wahai hamba-Ku, janganlah engkau menganggap kecil suatu dosa. Karena bisa saja engkau melakukan sebuah dosa, lalu setelah itu aku berkata padamu, ‘Wahai hamba-Ku, aku tidak akan mengampuni engkau, dan tidak akan memperoleh tobat.’ Dan janganlah engkau menganggap remeh suatu pahala. Karena bisa saja engkau melakukan suatu perbuatan yang pahalanya kecil, misalnya engkau menawan hati seorang manusia dengan ucapan salammu kepadanya; lalu karena pahala ini Aku berkata kepadamu, ‘Wahai hambaku, engkau telah berhasil dan engkau telah menjadi orang yang berbahagia, sekarang tangan penolong-Ku akan senantiasa berada di atas kepalamu.’”
 
Jadi, kalimat kedua yang dikatakan Imam Ja’far ash-Shadiq kepada Sufyan ats-Tsauri ialah, bahwa jika engkau ingin dadamu lapang maka engkau harus taat kepada Tuhanmu.
 
Adapun kalimat ketiga, Imam Ja’far ash-Shadiq berkata kepada Sufyan ats-Tsauri, “Sesungguhnya engkau adalah seorang hamba. Engkau dan apa yang engkau miliki adalah kepunyaan Tuanmu.” Sesungguhnya segala sesuatu yang dimiliki manusia, baik itu harta, akal, keinginan, keamanan, dan kesehatan, kesemuanya itu adalah milik Allah SWT Yang Maha Kaya dan Maha Mulia.
 
Jika seseorang mampu memahami, bahwa segala sesuatu yang tumbuh baginya, baik itu kenikmatan lahir maupun kenikmatan adalah milik Allah SWT, maka berinfak di jalan Allah tidak akan menjadi sulit baginya.
 
Sebagai contoh, jika seseorang memberikan sejumlah uang kepada Anda supaya Anda menginfakkannya kepada orang-orang miskin, maka tentunya menginfakkan uang tersebut adalah sesuatu yang mudah bagi Anda. Karena uang itu bukan milik Anda, melainkan milik orang lain.
 
Ketika kita meyakini bahwa semua yang kita miliki adalah berasal dari Allah SWT (yang mana Allah telah mengisyaratkan kepada hakikat ini di dalam banyak tempat), maka tentu kita tidak akan terlambat di dalam berinfak, sebagaimana yang telah Allah perintahkan kepada kita. Allah SWT berkata, “Infakkanlah sebagian rezeki yang telah Aku anugerahkan kepadamu”, “Aku telah memberikan kesehatan kepadamu, supaya engkau gunakan di dalam memperkuat spiritualmu”, “Aku telah berikan akal kepadamu, maka manfaatkanlah akalmu pada hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan bagi orang lain”, “Aku telah anugerahkan ilmu kepadamu, maka ajarkanlah ilmu itu kepada orang lain dan didiklah mereka dengan penuh kesabaran.”
 
Jika kita benar-benar seorang hamba, dan kita mengetahui bahwa kita tidak memiliki sesuatu apapun, maka tentu kita siap untuk bekerja siang dan malam bagi masyarakat kita dan siap menginfakkan seluruh yang kita miliki bagi hamba-hamba Allah. Karena kita tahu bahwa kita tidak memiliki apa-apa, dan apa yang ada pada kita itu semua adalah milik Allah SWT. Dan Allah menyukai kita bersikap demikian.
 
Imam Ja’far ash-Shadiq berkata, “wahai Sufyan ats-Tsauri, jika engkau menginginkan kelapangan dada maka engkau harus menjaga bagian ini.”. Sungguh, jika kita benar-benar berpegang kepada kalimat ketiga ini maka niscaya banyak dari urusan kita menjadi lurus, dan banyak sifat kita yang tercela akan lenyap dari diri kita. Inilah yang dikatakan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq mengenai kelapangan dada.
 
Ringkasnya, jika kita ingin menang di dalam pertempuran “dalam” ini, surah al-Insyirah mengatakan kepada kita bahwa kita harus mempunyai kelapangan dada. Juga Imam Ja’far ash-Shadiq berkata bahwa untuk memperoleh kelapangan dada kita harus mempunyai ketiga hal berikut :
1.Kita harus menjadi seorang hamba Allah
2.Kita harus taat kepada Allah seratus persen
3.Kita harus mengetahui bahwa semua yang kita miliki adalah milik Allah SWT.
 
Ketika Anda sudah menjadi demikian, maka Anda akan tahu bahwa Anda adalah seorang hamba Allah, dan tentunya rahmat Allah pasti meliputi diri Anda. Manakala Anda menaruh perhatian yang besar terhadap kewajiban-kewajiban agama dan menjauhi dosa, serta Anda mengetahui bahwa segala sesuatu yang Anda miliki berasal dari Allah maka tentu berinfak akan menjadi mudah bagi Anda.
 
Ya Allah, demi kemuliaan dan keluhuran-Mu kami bermohon, hendaknya Engkau menganugerahkan kepada kami semua sifat kemanusiaan, kesadaran, cahaya hati, dan taufik untuk beribadah kepada-Mu dan meninggalkan maksiat terhadap-Mu.
 
Ya Allah, demi kemuliaan dan keluhuran-Mu kami bermohon tunjukkanlah kami kepada hal-hal yang mendatangkan keridhaan-Mu dan cegahlah kami dari hal-hal yang mengakibatkan kemarahan dan kemurkaan-Mu.

user comment
 

latest article

  Imam Hadi as, Teladan Sepanjang Masa
  Tiga Hal yang Menjamin Segala Kebaikan dalam Kehidupan
  Tips-tips Mengatasi Sikap Pamer
  Pernikahan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah sa
  Imam Jawad, Mutiara Ilmu dan Akhlak
  Persembahan untuk Fatimah
  Imam Shadiq as Pemimpin Mazhab Ja'fariyah
  Ubudiyyah Kepada Allah SWT (2)
  Bingung Memilih Da’i ? Inilah Contoh Seorang Da’i Sejati !
  Imam Bagir as Mengetahui Peristiwa dan Pesan Beliau Kepada Jabir Ju’fi