Indonesian
Thursday 27th of July 2017
code: 81996
Mengenal Epistemologi (2)



Pada saduran sebelumnya, secara singkat telah disinggung beberapa hal yang terkait dengan urgensi, definisi, pemicu, dan sejarah kajian epistemologi sejak zaman pra dan pasca Sokrates. Pada kesempatan ini[1], kita akan menyinggung perkembangan epistemologi setelah abad pencerahan.

Akan tetapi, sebelum masuk kepada periode renaissance, perlu ditekankan bahwa pada kurun middle age, entah di Barat maupun dunia Islam, terdapat corak khusus dalam pemikiran Filsafat. Arah pemikiran Filsafat pada masa ini lebih berpusat pada pembahasan Metafisika. Namun, hal ini tidak berarti bahwa pada masa ini terjadi kemandekan atau stagnasi pembahasan filsafat, khususnya Epistemologi. Bahkan sebaliknya, pada rangkaian tulisan berikutnya, akan jelas terlihat bahwa di tangan para Filsuf Muslim terjadi dialektika yang dinamis dan terdapat banyak pemecahan baru dalam ranah epistemologi.

***

3.    Epistemologi Setelah Abad Pencerahan

[Dr. Legenhausen]

Hari ini, yang menjadi pusat kajian epistemologi di Barat hanyalah ilmu-ilmu yang dihasilkan melalui panca indra; seperti ilmu terkait proposisi “di atas meja terdapat bunga hias.” Padahal, ilmu semacam ini tidak menjadi kajian para pemikir di era sebelumnya, seperti Ibn Sina, St. Thomas Aquinas, Sokrates, Plato dan Aristoteles.

Pertanyaan penting yang lazimnya muncul terkait hal ini adalah: bagaimana masalah (epistemologi) berubah menjadi seperti itu? Hakikatnya, menjawab soal ini bukanlah hal yang mudah. Jika kita ingin menjawab soal ini dengan baik, maka kita harus menelaah dan mendiskusikan sejarah epistemologi di Barat secara rinci. Meski begitu, kita dapat menyebutkan beberapa poin untuk menggambarkan jawaban dari soal tersebut.

Dapat dinyatakan, bahwa salah satu titik tolak berubahnya ‘warna’ epistemologi di Barat disebabkan pengaruh dan peran Francis Bacon (1561-1626 M). Dalam hal hakikat pengetahuan, Bacon berpandangan sama seperti Sokrates, bahwa bila seseorang yang mengklaim suatu pengetahuan tidak mampu memberikan tolok ukur ilmu hakiki, maka sejatinya ia tidak memiliki ilmu.

Sebagaimana yang telah disebutkan pada tulisan sebelumnya, untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar memiliki pengetahuan, maka harus ada pembuktian. Dalam pandangan Aristoteles, metode pembuktian yang benar adalah melalui burhan. Sementara itu, dalam pandangan Plato, seorang yang mengklaim suatu ilmu harus menunjukkan bahwa dirinya benar-benar menguasai keterampilan (tekhnē) tertentu.

Berbeda dengan beberapa pandangan di atas, Bacon menyatakan bahwa tolok ukur ilmu hakiki bergantung pada apakah seseorang dapat menggunakan ilmunya untuk kesejahteraan materialistik atau tidak. Jika tidak, maka sejatinya seseorang tidak dapat dikatakan memiliki ilmu. Sebagai contoh, bila seseorang dapat menemukan sebuah metode dalam ilmu kedokteran yang dapat menyembuhkan penyakit khusus, maka ia dapat dikatakan sebagai pemilik ilmu.[2] Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ilmu dalam pandangan Bacon tidak lain dari sesuatu yang hari ini dipahami sebagai teknologi.

Pengetahuan dalam Kacamata Empirisme

Pada hakikatnya, tolok ukur yang diutarakan oleh Bacon berhasil membuka sebuah babak baru dalam Epistemologi dimana pemikiran Empirisme mulai berkembang. Sejarahnya, pada abad 17 dan 18 Masehi, terbentuk berabgai kelompok Protestan yang memiliki beberapa klaim dan pengakuan yang dianggap ‘aneh’ saat itu. Dasar pandangan kelompok protestan ini adalah klaim bahwa mereka memiliki ilmu terhadap Tuhan dan memiliki hubungan langsung dengan roh kudus.

Sebagai perlawanan dari arus pemikiran Prostestan, para pemikir empiris ‘menantang’ bila mereka memang benar-benar memiliki pengetahuan terhadap Tuhan, mereka harus membuktikan klaim tersebut; entah melalui metode burhan ataupun pembuktian indrawi yang notabene kedua-duanya tidak dapat dibuktikan oleh kaum Protestan pada masa itu.

Seiring bergulirnya waktu, pengaruh Empirisme semakin luas. Uniknya, hal ini bisa kita lihat dari pernyataan John Lock (1632-1704 M), salah satu penganut empirisme zaman itu, yang mengatakan: “Aku mengetahui Agama Kristen adalah Agama yang benar, karena kami melihat secara indrawi, bahwa Nabi Isa melakukan mukjizat; jika ia bukanlah Tuhan, ia tidak akan bisa melakukan hal tersebut.” Meskipun argumen Lock bukanlah argumen yang kuat, tetapi dapat terlihat dengan jelas, bahwa ia berusaha membuktikan kebenaran Agamanya dengan “tolok ukur” pengetahuan (empiris) yang diakui pada zaman itu.

Sampai saat ini, kurang lebih pola pikir empirisme masih dominan di Barat. Seiring dengan berkembangnya wacana, pembahasan epistemologi menjadi beragam dan berkepanjangan. Dialektika dengan warna kental ‘indrawi’ tersebut terus bergulir di tangan Bacon, John Lock dan berbagai penganut empirisme lainnya. Bahkan, meski ada sebagian pemikir Barat yang menolak epsitemologi empirisme sekalipun, tak dapat dipungkiri dalam hal hakikat pengetahuan mereka juga sangat terpengaruh oleh empirisme.

Pencerapan Indrawi; Titik Tolak Epistemologi Hari ini

[Dr. Malikiyân]

Berdasarkan penjelasan historis Dr. Legenhausen di atas, terdapat beberapa poin yang patut menjadi pusat perhatian. Poin pertama yang amat penting untuk diperhatikan, bila hari ini kita berbicara seputar Epistemologi, maka yang dimakasud sebagai ilmu atau episteme adalah pencerapan indrawi (sense perception).  Oleh sebab itu, paling tidak ketika kita ingin memulai pembahasan epistemologi, maka titik awal pembahasan adalah pertanyaan: apakah indra mampu memberikan pengetahuan yang sesuai kenyataan atau tidak?

Sebagaimana yang diketahui, pada masa sebelum renaissance, para pemikir tidak memberi porsi besar bagi pentingya membahas pencerapan indrawi. Apalagi, para filsuf seperti Plato jelas-jelas menolak bahwa persepsi indrawi dapat menjadi sumber pengetahuan hakiki. Mereka meyakini bahwa sumbangsih maksimal yang dapat diberikan oleh persepsi indrawi adalah anggapan (doxa), bukan keyakinan.

Secara zahir, sepertinya para filsuf Yunani memahami keterbatasan pengetahuan indrawi sebagai sesuatu yang gamblang, sehingga tidak membutuhkan pembahasan panjang lebar. Karena itu, dalam pandangan mereka, seseorang harus menemukan suatu sumber lain yang dapat memberikan pengetahuan hakiki; yakni pengetahuan yang benar-benar menampakkan kenyataan atau realitas.

Bahkan, para filsuf yang tidak seperti Plato sekalipun –yakni tidak menolak pencerapan indra sebagai salah satu sumber pengetahuan– pada saat yang sama mereka tidak tertarik untuk membahas hal tersebut secara rinci. Artinya, dalam pandangan mereka, meski pencerapan indra dapat menjadi sumber pengetahuan, namun itu bukanlah sesuatu yang sedemikian penting, hingga harus dijadikan ‘batu pertama’ pembahasan epistemologi.

Padahal sebaliknya, hari ini epistemologi sangat terpengaruh oleh semangat empirisme yang menjadikan pencerapan indra sebagai ‘batu pertama’ pembahasan epistemologi mereka. Berdasarkan pandangan para epistemolog hari ini, pengetahuan yang bersumber dari pencerapan indra adalah sesuatu yang tak dapat dinafikan. Karena itu, bila kita ingin mengetahui nilai dari berbagai pengetahuan yang kita miliki, maka langkah pertama yang seharusnya kita tempuh adalah mengkaji kapasitas pengetahuan indra dalam menunjukkan realitas.

Pemahaman Sehari-hari

Kemudian, poin kedua yang perlu ditekankan adalah –pada masa Yunani yang notabene merupakan tempat lahir dan berkembangnya epistemologi di Barat– para filsuf tidak menjadikan pemahaman awam atau sehari-hari (common sense) sebagai pusat pembahasan epistemologi. Dengan kata lain, para filsuf Yunani tidak mempertanyakan apakah berbagai pengetahuan kita yang terkait dengan kehidupan sehari-hari sesuai dengan kenyataan atau tidak.

Yang menjadi perhatian para filsuf zaman itu adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, pembahasan epistemologi saat itu adalah pemahaman dari proposisi “alam terbentuk dari air” atau proposisi Heraclitus of Ephesus yang mengatakan “segala sesuatu di alam ini dalam keadaan bergerak.” Begitu juga, pandangan Parmenides dan Zeno yang bersebrangan dengan pandangan Heraclitus pun bukanlah pandangan yang berangkat dari pemahaman awam.

Oleh karena itu, semua contoh di atas menggambarkan satu hal yang sangat jelas, bahwa persoalan epistemologi pada zaman Yunani bukanlah pemahaman umum yang ‘dekat’ dengan kehidupan sehari-hari. Pertanyaan mereka adalah: Apa sebenarnya unsur pembentuk materi? Apakah alam selalu dalam keadaan bergerak? atau sebaliknya, bukankah tidak ada sesuatu yang sejatinya bergerak? Apakah alam materi terbatas atau tidak terbatas? Dan berbagai persoalan lainnya yang di luar ‘jangkauan’ pemahaman awam.

Dengan demikian, para filsuf Yunani tidak memberi perhatian pada pemahaman awam, seperti  pertanyaan apakah beragam warna yang kita lihat sehari-hari sesuai dengan kenyataan atau tidak.

Namun sebaliknya, hari ini Epistemologi di Barat justru mempertanyakan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti apakah makanan ini lebih asin dari makanan itu? Bagaimana saya dapat mengklaim hal tersebut? Atau, bagaiamana saya dapat mengklaim bahwa benda ini lebih berat dari benda itu?

Sukarnya Membuat Kaidah Bagi Pemahaman Awam

Poin selanjutnya yang juga perlu untuk dibahas adalah sulitnya menentukan tolok ukur dan kaidah bagi pemahaman awam. Yakni, apa saja yang sebenarnya masuk dalam cakupan pemahaman awam? Atau sebaliknya, apa saja yang keluar dari cakupan pemahaman awam? Hal ini bukanlah persoalan yang mudah untuk dijawab.

Kendati demikian, tentu secara umum dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang semua manusia pahami secara ‘mudah’, tanpa harus melalui jenjang akademik, adalah pemahaman awam atau sehari-sehari. Misalnya, semua kita memahami eksistensi manusia lain selain diri kita; semua kita memahami bahwa benda-benda mati tidak memiliki akal; semua kita memahami ada yang namanya matahari; semua kita memahami bahwa sebagian benda bila terbentur dengan benda lain akan menghasilkan suara.

Semua contoh di atas adalah pengetahuan yang diterima oleh kita semua. Sedemikian rupa, seolah-olah ia adalah kumpulan pengetahuan umum yang dimiliki oleh semua manusia. Untuk pengetahuan jenis ini, kita dapat menamakannya sebagai ‘pengetahuan awam’ atau ‘pengetahuan sehari-hari’.

Sekaitan dengan itu, salah satu pembahasan penting dalam Fislafat –atau dalalm istilah yang lebih tepat ‘Falsafah Filsafat’– adalah pertanyaan: atas dasar apa filsafat pantas untuk terpisah dari pemahaman sehari-hari? Teori gerakan substansi misalnya, ia adalah sesuatu yang terpisah dari pemahaman sehari-hari. Pertanyaan yang muncul: apakah tepat bila filsafat mebahas hal tersebut? Tidakkah seharusnya dialektika Filsafat bergerak bersamaan dengan pemahaman awam atau sehari-hari?

Pembagian Barat-Timur bagi Filsafat dan Epistemologi

Poin terakhir yang perlu menjadi perhatian adalah kita dapat membagi Filsafat dan Epistemologi beradasarkan ‘tempat lahir’ atau pemicunya. Berdasarkan pembagian ini, Filsafat dan Epistemologi memiliki dua ‘asal-muasal’: pertama, Yunani-Romawi-Mesir dan kedua, Hindu dan Cina kuno. Oleh karena itu, umumnya ketika suatu aliran pemikiran disebut sebagai ‘Filsafat Barat’, maka maksudnya adalah aliran pemikiran yang berakar atau sangat terpengaruh oleh Filsafat Yunani, Romawi dan terkadang Mesir.

Begitu juga, ketika kita mempredikatkan suatu aliran pemikiran sebagai ‘Filsafat Timur’, maka maksudnya adalah pemikiran yang berasal atau terpengaruh oleh Filsafat Cina dan Hindu. Berangkat dari pembagian ini, maka suatu arus pemikiran yang bahkan kita sebut sebagai ‘Filsafat Islam’ pun terhitung sebagai salah satu mazhab ‘Filsafat Barat’; lantaran –tak dapat diingkari– Filsafat Islam sangat terpengaruh oleh Yunani dan Romawi kuno.

Meski begitu, ketika dikatakan Filsafat Islam adalah Filsafat Barat tidak berarti bahwa Filsafat Islam ‘mengekor’ pada FIlsafat Yunani, Romawi atau Mesir. Begitu juga, tidak berarti bahwa Filsafat Islam hanya merujuk pada ketiga sumber di atas. Perlu ditekankan, alasan pengkategorian tersebut adalah pengearuh besar ketiga peradaban di atas terhadap lahirnya dialektika Filsafat Islam. Atas dasar inilah, membahas histori dan jejak Epistemologi yang berkembang dari zaman Yunani atau Romawi kuno menjadi telaah yang penting dan lazim.

[bersambung].

CATATAN :
[1] Bagian kedua tulisan ini adalah saduran kitab asli dari halaman 36-44.

[2] Pemilik ilmu yang dimaksud di sini, dengan beberapa perubahan dan penyempitan makna, umumnya disebut sebagai ilmuan dalam bahasa Indonesia.

user comment
 

latest article

  Biografi Sayidah Fatimah Maksumah sa
  Sayidah Fatimah SA, Wanita Pemilik Pengetahuan dan Kebijaksanaan 1.
  Kisah Sayidatina Fatimah r.ha
  Mengenal Pemimpin Mazhab Ja'fariyah
  Imam Ja'far Ash-Shadiq a.s
  Keserasian Zikrullah dengan Hamasah (2)
  Menghampiri Kebenaran dengan Akal
  Mungkinnya Filsafat Syuhudi; Sebuah Pengantar
  Muslimah Pertama Peraih Nobel Matematika asal Iran Tutup Usia
  Tafsiran Tauhid Filosofis dan Irfani dalam Surah Tauhid